Kamis, 16 Mei 2013

Desa Muara Sungai

Desa Muara sungai adalah desa tertua di DAS (Daerah Aliran Sungai) Lematang diperkirahkan berumur lebih kurang 800 tahun setelah penghitungan benda-benda sejarah yang masih ada kata. 

Menurut gelumpai (tulisan paku) penduduk desa Muara Sungai berasal dari tiga suku yaitu Kampong Pingger Ayek (Demak Jateng) Kampong Panjang (Mataram) dan Kampong Kelepet (keluarga kecil yang sudah ada sebelum kampong pingger ayek dan panjang).
Puyang Kampong Pinggir Ayek yaitu Muhamd Rizal berasal dari Demak putra dari Abdul Gopur Makualam keluarga dari Syafulloh sepupu dan masih saudara Sultan Demak, datang ke tanah Muara Sungai (Kahuripan) misi sebagai penyebar agama Islam dan akhirnya mendirikan pesantren bersama Puyang Sungai Bungen (Sulaiman Berasal dari Mataram), Muhamad Rizal menikah dengan adik kandung dari Panglima Perang Kerajaan Kute Kebon Undang (Dalang Seno) yaitu Siti Hudaya dari Kute Pengayutan (Tanah Abang) yang menurut sejarah Dalang Seno termasuk penumpas kerajaan Sriwijaya di Candi Bumi Ayu saat perjuang Islamisasi dari Demak )

Puyang Kampong Panjang yaitu Panti Dandanan (Karib Muarib) dari kerajaan Kute Kebon Undang dan konon Karib Muarib pernah menjadi lutung atau berbulu dengan tingkah laku seperti lutung dan akhirnya dididik kembali seperti semula dengan julukan Panti Pandanan (memperbaiki diri) bahkan keturunan Puyang Panjang Aktif dalam penyebaran dakwa Islam di Muara Sungai sampai sekarang.

Puyang Kelepet konon cerita sebelum ada Puyang Panjang dan Pingger Ayek kampong kelepet sudah ada dan warga kampong kelepet banyak penduduk asli Palembang namun perkembangan keturunanya tidak cepat.

Desa Muara Sungai termasuk dalam marga empat Petulai Curup (Kecamatan Tanah Abang) desa Muara Sungai dahulunya mencakup sampai ke Desa Raja, desa Harapan Jaya. Pemimpin desa Muara Sungai zaman orde lama, orde baru dan sampai sekarang zaman Reformasi diantaranya:
  1. Krie Jayib                                Zaman Belanda
  2. Krie Cik Abem                        Zaman Kemerdekaan 1947an
  3. Krie H.M To’at                        Zaman Orde baru 1973an
  4. Krie Batam                             Tahun 1981 (PJS)
  5. Krie H. M Dani                       Tahun 1982 – 1984   
  6. Kades  Sawawi                       Tahun 1984 – 1999  (PJS)
  7. Kades Turisno                       Tahun 1999 – 2009
  8. Kades Irwanto H. Toa’t         Tahun 2009 – 2015

Desa Muara Sungai pada Tahun 1975 tepatnya di bulan Oktober di mekarkan menjadi dua desa dikarnakan jumlah penduduk yang semakin tinggi dan pelayanan masyarakat yang semakin memerlukan perhatian serius karna keterbatasan staf dan perangkat yakni menjadi Desa Raja.

Desa Muara Sungai yang konon di namai oleh parah pendiri desa yakni mengambil dari Nama sebuah Muara sungai diambil dari kata tempat desa atau kampong yang berada di pinggir sungai yang bermuara ke sungai Lematang.    
 
Desa Muara Sungai penduduknya terdiri dari dua suku yakni suku asli pribumi suku Lematang dan suku pendatang yakni Suku Jawa, Palembang, mayoritas penduduk asli 89% (keturun ketiga Kampung Panjang, Pingger Ayek, dan Kelepet ) lebihnya sebagai pendatang karna faktor perkawinan dan pekerjaan. 

Desa Muara sungai yang mayoritas penduduk muslim 100 % dengan bahasa sehari-hari menggunakan Bahasa Melayu Lematang, dan khas dengan adat melayu. Di Desa Muara sungai ada kebiasaan masyarakat yakni ketika menyelenggarakan resepsi pernikahan yakni Njengok Rasan (meminang anak perempuan), Berasan Kecik (musyawarah keluarga), Bejengoan(mengunang), Berasan Besak (biasanya diisi dengan tahlilan), Nulong Urang (memberi bantuan tenaga dan sembako), Mipis Bumbu (meracik bumbu untuk hidangan sedekah), Sedekah Adat dan Ninge (syukuran kecil setelah sukses melaksanakan acara adat)
Dalam proses kematian yang di pandu oleh Paskir (Persatuan Amal Kematian Islam) desa Muara Sungai dilakukan Tausiyah, Tahlil malam 1-7 hari kematian si pulan. Di Desa Muara Sungai juga banyak kesenian daerah sepereti Senjang, Tembang Beranyotan, Robana,  Ratip Zaman dan tarian daerah lainnya.

Desa Muara Sungai mempunyai potensi alam diantaranya sebagai desa wisata buah durian dan duku serta manggis, dan juga terdapat Danau 2000 hasil dari perubahan alam terputusnya sungai lematang karena abrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar