Desa Muara Sungai
Desa Muara sungai adalah desa tertua di DAS
(Daerah Aliran Sungai) Lematang diperkirahkan berumur lebih kurang 800 tahun
setelah penghitungan benda-benda sejarah yang masih ada kata.
Menurut gelumpai (tulisan paku) penduduk desa
Muara Sungai berasal dari tiga suku yaitu Kampong Pingger Ayek (Demak Jateng) Kampong
Panjang (Mataram) dan Kampong Kelepet (keluarga kecil yang sudah ada sebelum
kampong pingger ayek dan panjang).
Puyang
Kampong Pinggir Ayek yaitu Muhamd Rizal berasal dari Demak putra dari Abdul Gopur
Makualam keluarga dari Syafulloh sepupu dan masih saudara Sultan Demak, datang
ke tanah Muara Sungai (Kahuripan) misi sebagai penyebar agama Islam dan
akhirnya mendirikan pesantren bersama Puyang Sungai Bungen (Sulaiman Berasal
dari Mataram), Muhamad Rizal menikah dengan adik kandung dari Panglima Perang
Kerajaan Kute Kebon Undang (Dalang Seno) yaitu Siti Hudaya dari Kute Pengayutan
(Tanah Abang) yang menurut sejarah Dalang Seno termasuk penumpas kerajaan
Sriwijaya di Candi Bumi Ayu saat perjuang Islamisasi dari Demak )
Puyang
Kampong Panjang yaitu Panti Dandanan (Karib Muarib) dari kerajaan Kute Kebon
Undang dan konon Karib Muarib pernah menjadi lutung atau berbulu dengan tingkah
laku seperti lutung dan akhirnya dididik kembali seperti semula dengan julukan
Panti Pandanan (memperbaiki diri) bahkan keturunan Puyang Panjang Aktif dalam
penyebaran dakwa Islam di Muara Sungai sampai sekarang.
Puyang
Kelepet konon cerita sebelum ada Puyang Panjang dan Pingger Ayek kampong
kelepet sudah ada dan warga kampong kelepet banyak penduduk asli Palembang
namun perkembangan keturunanya tidak cepat.
Desa Muara
Sungai termasuk dalam marga empat Petulai
Curup (Kecamatan Tanah Abang) desa Muara Sungai dahulunya mencakup sampai
ke Desa Raja, desa Harapan Jaya. Pemimpin desa Muara Sungai zaman orde lama,
orde baru dan sampai sekarang zaman Reformasi diantaranya:
- Krie Jayib Zaman Belanda
- Krie Cik Abem Zaman Kemerdekaan 1947an
- Krie H.M To’at Zaman Orde baru 1973an
- Krie Batam Tahun 1981 (PJS)
- Krie H. M Dani Tahun 1982 – 1984
- Kades Sawawi Tahun 1984 – 1999 (PJS)
- Kades Turisno Tahun 1999 – 2009
- Kades Irwanto H. Toa’t Tahun 2009 – 2015
Desa Muara Sungai
pada Tahun 1975 tepatnya di bulan Oktober di mekarkan menjadi dua desa dikarnakan
jumlah penduduk yang semakin tinggi dan pelayanan masyarakat yang semakin
memerlukan perhatian serius karna keterbatasan staf dan perangkat yakni menjadi
Desa Raja.
Desa Muara
Sungai yang konon di namai oleh parah pendiri desa yakni mengambil dari Nama
sebuah Muara sungai diambil dari kata tempat desa atau kampong yang berada di
pinggir sungai yang bermuara ke sungai Lematang.
Desa Muara Sungai
penduduknya terdiri dari dua suku yakni suku asli pribumi suku Lematang
dan suku pendatang yakni Suku Jawa, Palembang, mayoritas penduduk asli 89% (keturun
ketiga Kampung Panjang, Pingger Ayek, dan Kelepet ) lebihnya sebagai pendatang
karna faktor perkawinan dan pekerjaan.
Desa Muara sungai
yang mayoritas penduduk muslim 100 % dengan bahasa sehari-hari menggunakan
Bahasa Melayu Lematang, dan khas dengan adat melayu. Di Desa Muara sungai ada
kebiasaan masyarakat yakni ketika menyelenggarakan resepsi pernikahan yakni Njengok Rasan (meminang anak perempuan),
Berasan Kecik (musyawarah keluarga), Bejengoan(mengunang), Berasan Besak (biasanya diisi dengan tahlilan), Nulong Urang (memberi bantuan tenaga dan sembako), Mipis Bumbu (meracik bumbu untuk hidangan
sedekah), Sedekah Adat dan Ninge
(syukuran kecil setelah sukses melaksanakan acara adat)
Dalam proses
kematian yang di pandu oleh Paskir (Persatuan Amal Kematian Islam) desa Muara Sungai
dilakukan Tausiyah, Tahlil malam 1-7 hari kematian si pulan. Di Desa Muara Sungai
juga banyak kesenian daerah sepereti Senjang, Tembang Beranyotan, Robana, Ratip Zaman dan tarian daerah lainnya.
Desa Muara Sungai
mempunyai potensi alam diantaranya sebagai desa wisata buah durian dan duku
serta manggis, dan juga terdapat Danau
2000 hasil dari perubahan alam terputusnya sungai lematang karena abrasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar